Jumat, 08 Desember 2017

Ternyata Kentut Sapi Merusak Ozon


TERNYATA, kentut sapi bisa merusak lapisan ozon. Dalam kategori gas-gas rumah kaca, gas methan adalah yang gas yang paling berbahaya. Dibanding gas karbon dioksida, gas methan jauh lebih merusak lapisan ozon di atmosfir, dan sebagian besar gas itu dihasilkan oleh ternak.

Dikutip dari VoA Indonesia, Sapi-sapi di peternakan di seluruh dunia menghasilkan daging yang dimakan oleh jutaan manusia; tapi sapi-sapi itu juga bertanggung jawab atas peningkatan suhu bumi. Ini disebabkan karena dalam satu bagian perut sapi itu, yang disebut rumen, proses pencernaannya menghasilkan gas methan, gas rumah kaca yang sangat kuat.
Richard Dewhurst, pakar pada Scotland’s Rural College, mengatakan, “Proses fermentasi dalam rumen itu penting bagi sapi, tapi masalahnya, proses itu juga menghasilkan gas methan.”
Karena itu, di sebuah laboratorium di Inggris, para pakar memberi makanan yang berbeda kepada sapi-sapi ternak untuk melihat makanan jenis apa yang menghasilkan paling sedikit gas methan.
Rainer Roehe, pakar lainnya pada Scotland Rural College, menjelaskan, “Kami punya enam tong makanan yang berisi makanan ternak yang berbeda. Kami berusaha mempelajari dampak makanan tertentu dalam kaitannya dengan produksi gas methan, dan juga tentang susunan genetika sapi-sapi yang hanya menghasilkan sedikit gas methan.”
Tapi yang ditemukan para pakar, bukan makanan apa yang menghasilkan gas methan terbanyak, tapi jenis bakteri yang terdapat dalam perut sapi itu, yang menentukan jumlah gas methan yang dihasilkan.
Penemuan ini mungkin kabar baik bagi peternak sapi, karena akan memungkinkan mereka menternakkan sapi-sapi yang tidak menghasilkan banyak gas methan.
Kata para pakar, diharapkan suatu hari petani akan bisa mengadakan pengetesan genetika untuk mencari sapi-sapi yang lebih bersih dan tidak menghasilkan banyak gas methan.
Sementara itu, kita bisa mengurangi produksi gas methan yang merusak lapisan ozon dengan makan lebih sedikit daging sapi. (Tim Gelagat)

Rabu, 06 Desember 2017

Kecolongan, 13 Jiwa Melayang Gegara Difteri


BANDUNG – Pemerintah kecolongan. Setelah puluhan tahun tak terdengar kasusnya, wabah penyakit difteri kini menerjang. 18 kabupaten/kota di Jawa Barat sudah terpapar. Dari 116 kasus, 13 jiwa sudah melayang.
Penyakit  akibat bakteri Corynebacterium Diphteriae itu menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan serta terkadang dapat mempengaruhi kulit.
"Penyakit ini menyerang balita dewasa bahkan lanjut usia," ucap Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSHS Bandung, Djatnika Setiabudi, Selasa, (5/12).
Selama periode 2016-2017, RSHS Bandung sudah menangani 20 pasien pengidap Difteri. Tiga pasien di antaranya telah dilakukan operasi dan dua orang dinyatakan meninggal dunia.
"Beberapa pasien yang bertahan telah menjalani terakeostomi hingga tahap pemulihan," terangnya.
Adapun pasien yang dinyatakan sembuh adalah pasien yang telah melewati masa isolasi hingga pantauan tim medis menyatakan penyakit Difteri pada tubuh korban sudah dinyatakan negatif.
“Pasien dinyatakan negatif ketika ia sudah tak menunjukan gejala-gejala Difteri lagi,” kata Djatnika.
Gejala-gejala yang terjadi antara lain seperti pembengkakan leher,demam, sakit tenggorokan dan selaput yang muncul di area tenggorkan berwarna putih. “Untuk memulangkan pasien Difteri ini, tim medis harus benar-benar teliti dan hati-hati,” paparnya.
Menurutnya, penanganan penyakit Difteri tidak hanya kepada korban melainkan sejumlah orang yang pernah melakukan kontak secara langsung dengan pasien.  "Harus diperiksa, diberikan antibiotik profilaksis, dan dilengkapi imunisasinya," jelasnya.
Djatnika menyayangkan masih kurangnya pengetahuan masyarakat ihwal pentingnya imunisasi atau vaksinisasi. Padahal, manfaat dari imunisasi salah satunya mencegah penyakit Difteri.
"Masih banyak masyarakat yang kurang paham soal penyakit ini dan penanganannya, bahkan tak jarang banyak yang menolak untuk divaksin,” ujarnya.
Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Jawa Barat ini membuat Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar menginstruksikan Dinkes Jabar untuk segera menangani dan mencegah wabah penyakit itu. Pria yang akrab disapa Demiz ini pun meminta masyarakat untuk aktif melaporkan kejadian Difteri dan aktif menjaga lingkungan serta menerapkan pola hidup sehat.
“Hampir 45 persen, penyakit itu disebabkan faktor lingkungan hidup. (Dinkes) Harus segera tangani. Sediakan obatnya, sediakan tenaga medisnya,” kata Demiz saat ditemui usai menjadi pembicara seminar kehumasan di Bandung. (*)
Ini Cara Penularan dan Gejala Difteri

DIFTERI adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.  Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri.
Staf Divisi Ilmu Infeksi Anak RSHS Bandung, Anggraeni Alam menghimbau, jika sudah terlihat gejala-gejala Diferti segera dilakukan tindakan komprehensif.  Pasalnya, kemungkinan meninggal dunia akibat suspect bakteri itu tinggi. "Satu dari dua pengidap Difteri beresiko kematian jika tak ditangani langsung,” ujarnya.
Dia pun mengingatkan kepada pihak RSUD dan swasta agar ikut terlibat menangani penyakit Difteri ini. Menurutnya, anti-toksin (obat) dan penanganan lainnya sudah ditanggung Dinas Kesehatan (Dinkes).
“Semua harus terlibat dalam penanganan dan penyembuhan penyakit ini, khususnya pencegahan dengan imunisasi," tandasnya.
Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti:
  • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
  • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.
Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:
  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam dan menggigil.
  • Sakit tenggorokan dan suara serak.
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
  • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
  • Lemas dan lelah.
  • Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak. Diperkirakan 1 dari 5 penderita balita dan lansia di atas 40 tahun meninggal dunia akibat komplikasi difteri.(*)